Aswi Rizki

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Hukum Shalat Jumat bagi Musafir
Hukum Shalat Jumat bagi Musafir

Hukum Shalat Jumat bagi Musafir

Dalam Islam, hari Jumat adalah hari istimewa. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Nabi saw:

إن يوم الجمعة سيد الأيام وأعظمها عند الله

Sungguh hari Jumat adalah raja dari segala hari, dan hari paling agung di sisi Allah

Pada hari Jumat umat Islam memiliki ritual mingguan, yaitu shalat Jumat. Shalat Jumat sedikit berbeda dengan shalat fardhu yang lain. Mulai dari harus dilakukan berjamaah, didahului khutbah, dan ketentuan lain, di antaranya adalah shalat Jumat tidak wajib bagi orang yang sedang bepergian (musafir) sebagaimana keterangan dalam Fath al-Qarib:

فلا تجب الجمعة على كافر أصلي وصبي ومجنون ورقيق وأنثى ومريض ونحوه ومسافر

Shalat Jumat idak wajib atas nonmuslim asli (bukan murtad), anak kecil (belum baligh), orang gila, budak, wanita, orang sakit, dan musafir

Dalam menjelaskan hal di atas, Syaikh Ibrahim Al-Baijuri mengatakan:

مسافر أي سفرا مباحا ولو قصيرا لاشتغاله بأحوال السفر – إلى أن قال – ويحرم على من تلزمه الجمعة السفر بعد فجر يومها إلا إذا أمكنه فعلها في مقصده أو طريقه

Yang dimaksud adalah musafir dengan perjalanan yang mubah (bukan bertujuan maksiat) meskipun perjalanan pendek, karena dia tersibukkan perjalanannya. Dan bagi orang yang wajib melaksanakan shalat Jumat, hukumnya haram untuk bepergian setelah terbitnya fajar pada hari Jumat, kecuali dapat melaksanakan shalat Jumat di tempat tujuan atau di tengah perjalanan

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa musafir yang tidak wajib melaksanakan shalat Jumat adalah orang yang melakukan perjalanan sebelum terbitnya fajar pada hari Jumat, dan tidak bertujuan maksiat. Meskipun perjalanannya tidak jauh, berbeda dengan shalat jama’ yang disyaratkan perjalanan jauh.

Namun demikian, ia berkewajiban melaksanakan shalat Dzuhur. Dan bagi orang yang terkena kewajiban melaksanakan shalat Jumat haram hukumnya melakukan perjalanan kecuali dia bisa melaksanakannya di tempat tujuan atau di tengah perjalanan. Namun dalam Mazhab Hanafiyah, melakukan perjalanan setelah terbitnya fajar tidak diharamkan sebagaimana keterangan dalam Al-Durr Al-Mukhtar :

لا بأس بالسفر يومها إذا خرج من عمران المصر قبل خروج وقت الظهر كذا في الخانية لكن عبارة الظهيرية وغيرها بلفظ دخول بدل خروج

(Tidak masalah, keluar pada hari Jumat ketika dia bisa keluar dari permukiman sebelum keluarnya waktu Dzuhur) begitulah dalam naskah Al-Khaniyah, akan tetapi dalam naskah Al-Zhahiriyah dan naskah lainnya, mensyaratkan sebelum masuk waktu dzuhur, bukan sebelum keluar waktu Dzuhur

Kesimpulannya, menurut mazhab Hanafiyah melakukan perjalanan di hari Jumat setelah terbitnya fajar dan sebelum masuk waktu Dzuhur hukumnya diperbolehkan. Wallahu a’lam.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar