Aswi Rizki

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Alasan Ulama Harus Berumur Empat Puluh Tahun
Alasan Ulama Harus Berumur Empat Puluh Tahun

Alasan Ulama Harus Berumur Empat Puluh Tahun

Almarhum Kiai Ali Mustafa Ya’qub, salah satu ahli hadis Indonesia telah merumuskan lima kriteria seseorang pantas mengemban titel ulama. Kelima kriteria itu adalah pertama ia harus paham ilmu agama Islam. Minimal ia dapat memahami Al-Qur’an dan hadis serta dapat membaca kitab-kitab kuning. Karena sumber ilmu agama mayoritas ditulis dalam teks Arab. Kedua, ia selalu merasa takut kepada Allah. Ketiga, ia memiliki sifat zuhud dan selalu berorientasi pada akhirat. Keempat ia akrab dengan rakyat kecil, selalu memperhatikan kaum fakir miskin dan duafa’. Serta kelima adalah ia telah berumur empat puluh tahun.

Sebenarnya penulis telah membahas kelima kriteria tersebut di dalam satu tulisan khusus (klik di sini). Namun, penulis ingin menyoroti kembali pada kriteria terakhir. Yakni ulama itu yang usianya telah mencapai empat puluh tahun. Kenapa harus empat puluh tahun?

Menurut laman hallosehat.com telah ada suatu penelitian oleh National Bureau of Economic Research (Pusat Penelitian Ekonomi) di Amerika Serikat pada tahun 2014. Yakni kecerdasan manusia itu sering kali baru memuncak saat seseorang memasuki usia 40-an. Hal ini diukur dari kemampuannya dalam menciptakan atau menemukan suatu gagasan baru. Oleh karena itu, rata-rata peraih Nobel dalam bidang ilmu Pengetahuan dan Matematika rata-rata berusia 40-an. Albert Einsten, meski ia sudah memformulasikan rumus E= mc2 nya pada usia 26 tahun, tetapi ia baru menerima piagam Nobel pertamanya ketika usia 43 tahun. Steve Jobs, salah satu pendiri Apple, perusahaan teknologi besar asal Amerika Serikat juga meluncurkan terobosan produk iPod di usia 40-an.

Sebenarnya di dalam Al-Qur’an pun Allah swt. telah mengisyaratkan bahwa usia 40 adalah usia emas bagi seseorang. Allah swt. berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Al-Ahqaf/46: 15).

Ibnu Katsir di dalam kitab Tafsirnya mengutip pendapat sahabat Ibnu Abbas yang mengatakan

” وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَة ” أَيْ تَنَاهَى عَقْله وَكَمُلَ فَهْمُهُ وَحِلْمه وَيُقَال إِنَّهُ لَا يَتَغَيَّر غَالِبًا عَمَّا يَكُون عَلَيْهِ اِبْن الْأَرْبَعِينَ

“Kata telah sampai empat puluh tahun maksudnya ialah telah mencapai puncak akalnya dan telah sempurna pemahaman serta kebijaksanaannya. Dan dikatakan sungguh hal itu biasanya tidak akan berubah (mencapai masa itu) hingga mencapai usia empat puluh tahun.”

Syekh Wahbah Az-Zuhaili di dalam tafsirnya At-Tafsir Al-Munir juga menafsirkan bahwa seseorang yang kuat, muda akan matang akal dan kekuatannya di usia antara tiga puluh hingga empat puluh tahun. Dan puncaknya (kecerdasan) akal, sempurnanya pemahaman dan kebijaksanaannya adalah di usia keempat puluh tahun. Kehidupannya akan sempurna sebab sempurnanya kekuatan ekonominya maupun kecerdasannya. Dan para Nabi pun tidak ada yang diangkat menjadi nabi sebelum berumur empat puluh tahun kecuali nabi Isa a.s.dan Yahya a.s.

Maka, karena Allah swt. telah menyempurnakan akal dan kehidupan seseorang di usia keempat puluh, hendaknya ia berdoa sebagai tanda syukur dia atas pencapaiannya tersebut. Serta hendaknya ia senantiasa beramal saleh dan bertaubat kepada Allah. Sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam surah Al-Ahqaf ayat 15 tersebut di atas.

Sementara imam Ibnu Kasir juga menafsirkan di dalam kitab tafsirnya bahwa ayat ini menunjukkan seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun, maka ia akan memperbarui taubatnya dan kembali kepada Allah serta bertekad untuk terus selalu bertaubat dan kembali kepada Allah.

Berdasarkan keterangan di atas, maka sangat tidak salah jika Kiai Ali Mustafa Ya’qub memberikan kriteria seseorang berhak menyandang gelar ulama ketika berumur empat puluh tahun. Di mana usia ini adalah usia yang matang bagi seseorang yang tidak lagi memiliki gejolak jiwa dan kestabilan kepribadian. Pada usia empat puluh tahun ini seseorang telah sudah mendapatkan istiqamah (ketenangan jiwa) dan kemapanan kepribadian. Sehingga ia layak menjadi panutan kaumnya. Sebelum itu, secara umum ia belum siap dan belum layak menjadi tokoh panutan umat.

Itulah barang kali hikmahnya mengapa secara umum kecuali Nabi Isa dan Yahya a.s., para Nabi diutus oleh Allah sesudah mereka berumur empat puluh tahun. Orang yang belum mencapai umur empat puluh tahun, apabila dijadikan pemimpin dan panutan umat atau ulama bisa jadi justru sebaliknya yang terjadi, ia merasa “besar” sebelum masanya.

Akhirnya justru yang timbul rasa arogan yang tinggi, merasa benar sendiri, tidak menerima saran dan kritik dan lain sebagainya. Selanjutnya ia sendiri justru hancur dalam sifat-sifat yang tidak terpuji itu. Karena secara moral ia belum sanggup menjadi seorang panutan umat. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar